Kepada semesta ia membawa Risalah Al Qur’an, Kalamullah yang dinuzulkan berangsur sejak dari ‘bukit cahaya’ Jabal Nur. Di malam qadar yang mengungguli seribu bulan, menggemakan Iqra’ menjadi tonggak peradaban, menyemaikan kata cinta, adil, setara, taat, merdeka, hak asasi, dan seterusnya.
Di balik selimut ia ditegur Surah Al Mudatsir untuk berdiri dan memberi peringatan. Menjadi koreksi atas kerahiban yang memadamkan gairah hidup dalam pengaburan makna keshalihan suci serta penipuan atas nama Tuhan oleh para cerdik. Ia ajarkan kemuliaan perempuan yang begitu besar karena pengorbanan mereka sejak hamil sampai membesarkan generasi, menjadi mitra penenteram kehidupan laki-laki dari galau dan gelisahnya, madrasah utama sebelum bangunan-bangunan tak bernyawa menjadi strata lanjut pendidikan buah hatinya.
‘Umar pernah menangis menyaksikan beliau tidur beralas tikar kulit kasar yang dijalin rerumputan, alas yang membuat punggungnya berbekas bilur. “Sungguh Ya Rasulallah, Kisra dan Qaishar bertelekan di atas bantal dan permadani suteranya, pelayan pun hilir mudik menyediakan keperluannya, sementara kedudukanmu di sisi Allah jauh lebih mulia …”, keluh ‘Umar. Ini salah satu keluhan yang kurang ia suka, tapi dengan senyum termanis yang pernah disaksikan dunia, ia jelaskan pada sahabat yang selalu bersemangat ini, “Apakah engkau tidak ridha mereka mendapat dunia sedang kita menyimpan akhirat wahai Ibnul Khaththab?”
Ia memang penguasa yang kekuasaannya tak kalah dengan Kisra dan Qaishar, tentu ia layak sejajar dengan mereka dalam fasilitas. Tapi yang ia kuasai tak cuma wilayah, rakyat, dan tentara. Yang ia taklukkan adalah hati, untuk diseru bersama dan berpadu, mengesakan Allah, Ilah yang Satu.
Ingatlah suatu hari saat ia membawa sepuluh ribu orang memasuki Makkah, kota yang dicintainya, kota yang penduduknya mengusir dan menyakitinya. Punggungnya terbungkuk, janggutnya menyentuh punuk untanya. Ia tak mabuk kemenangan. Ia beristighfar. Lalu, tampaklah wajah-wajah itu, wajah yang pernah menimpukkan kotoran, batu, dan isi perut unta. Wajah-wajah yang bengis, yang mengatainya gila, penyair pendusta, dan penyihir lihai. Saat wajah-wajah itu tertunduk lesu, terbungkam kalah di hadapannya, di depan Ka’bah, apa yang akan dilakukannya?
“Wahai Quraisy, apa yang selaiknya aku lakukan terhadap kalian?”, suaranya tegas namun tetap teduh dan sejuk. Suara itu membuat wajah-wajah tertekuk itu dibinari harapan, akan Al Amin, manusia paling jujur, paling mulia di tengah mereka. Lalu dengan kompak lisan mereka pun mengucap, “Engkau, adalah saudara kami yang mulia, putera dari saudara kami yang mulia..!”
“Pergilah..!”, katanya dengan nada yang sangat empatik, “Kalian semua bebas!”. Ia seolah mengikut jejak saudaranya, Yusuf berabad lalu. Saat ia mengucapkan perkataan melegakan kepada saudara-saudara yang telah memasukkannya ke kegelapan sumur.
“… Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kalian, mudah-mudahan Allah mengampuni. Dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.” (Yusuf 92)
Setelah menyaksikan cinta dari manusia yang seluruh sisi hidupnya penuh cinta ini, ada gerak yang perlu kita hidupkan. Gerak cinta mengamal sunnah. Gerak yang mungkin bermula dari niatan suci menjejaki langkah-langkahnya. Betapa pun, ada harapan bertemu dan bersua. Paling tidak nanti. Atau kini tetapi dalam mimpi.
Duhai kekasih Ilahi, kekasih hati imani
Hadirlah engkau di sini
Walau sekedar dalam mimpi
Kutahu engkau bimbangkan
Ummatmu yang kau tinggalkan
Terjerembab dalam ujian
(Suara Persaudaraan : Rindu Rasul)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar