Iklan

Minggu, 15 Februari 2009

Cinta Itu KaruniaNya


Cinta, ruh yang mengalir lembut, menyenangkan , bersinar, jernih, dan ceria. Terkadang juga bermanifestasi menjadi luh yang mengalir lembut, menyesakkan, berderai, jerih, dan badai. Tak pernah ia dihukum haram. Karena ia bukan virus yang memberikan penyakit pada jiwa seperti yang sering yang kita salahtafsirkan. Justru cinta, adalah makhluq Allah yang harus dijaga kesehatannya dari setiap penyakit yang mencoba menungganginya. Penyakit yang datang dari syaitan, syahwat, maupun syubhat.
Dua remaja di singsingan fajar risalah, Fathimah dan ‘Ali mencontohkan bagaimana cinta hidup, dengan sehat, tanpa penyakit yang mengganggu kekhusyu’an. Ia menjadi rahasia hati, simpati, ketertarikan, kontrol diri, doa, dan harapan. Saking rahasianya, sampai syaithan pun tak tahu. Masih ingat kan kisah tentang mereka?
Begitu pun, saat Muhammad ibn ‘Abdullah ditanya, maukah ia menikah dengan Khadijah, ia berkata segera, “Bagaimana caranya?”. Perhatikanlah intonasi penuh antusiasme ini. Cinta itu sudah tumbuh dan bersemai dalam dirinya. Persis seperti siratan makna dari sabdanya bertahun-tahun kemudian:
“Tiada terlihat, bagi dua orang yang saling mencintai.. Yang seperti pernikahan” (HR Ibnu Majah)
Seperti bunga, cinta sejati takkan mampu menyembunyikan semerbak wanginya. Eksistensi cinta mengejawantah dalam kelembutan, kecerdasan, perbaikan diri, keshalihan dan tentu juga keikhlasan. Tanpa keikhlasan yang digantungkan pada Pemilik ‘Arsy Maha Tinggi, ia akan mati. Ia mati, persis seperti setangkai mawar yang dipotong hanya untuk dipersembahkan pada kekasih.
“Dan hendaklah menjaga kesucian dirinya, orang-orang yang belum mampu menikah, hingga Allah mengayakan mereka dari karuniaNya.” ( An Nur 33)
Pastinya engkau tahu apa makna keikhlasan dalam setiap amal. Dan ketidaktahuan adalah isyarat agar kita segera mengkaji. Cinta yang tercerabut dari tangkai keikhlasan akan menjadi bunga potong yang mungkin sesaat merona, dan selanjutnya masuk ke tempat sampah.
Saat kemampuan menikah belum di tangan, biarlah cinta berekspresi menjadi keshalihan, perbaikan diri hari demi hari. Karena samapta janji Ilahi telah terukir di pelataran wahyu: keshalihan menjumpai keshalihan dan kebusukan menjumpai kebusukan.
Bahkan, tak perlu pula berkata, “Dinda, tunggu aku tiga tahun lagi!”. Apa perlunya menjanji yang tak pasti. Tak diminta pun bidadari pasti menanti. Dan lelaki langit akan datang bersama cahaya.

Cinta Rasulullah: mahaguru cinta sepanjang masa


Kepada semesta ia membawa Risalah Al Qur’an, Kalamullah yang dinuzulkan berangsur sejak dari ‘bukit cahaya’ Jabal Nur. Di malam qadar yang mengungguli seribu bulan, menggemakan Iqra’ menjadi tonggak peradaban, menyemaikan kata cinta, adil, setara, taat, merdeka, hak asasi, dan seterusnya.
Di balik selimut ia ditegur Surah Al Mudatsir untuk berdiri dan memberi peringatan. Menjadi koreksi atas kerahiban yang memadamkan gairah hidup dalam pengaburan makna keshalihan suci serta penipuan atas nama Tuhan oleh para cerdik. Ia ajarkan kemuliaan perempuan yang begitu besar karena pengorbanan mereka sejak hamil sampai membesarkan generasi, menjadi mitra penenteram kehidupan laki-laki dari galau dan gelisahnya, madrasah utama sebelum bangunan-bangunan tak bernyawa menjadi strata lanjut pendidikan buah hatinya.
‘Umar pernah menangis menyaksikan beliau tidur beralas tikar kulit kasar yang dijalin rerumputan, alas yang membuat punggungnya berbekas bilur. “Sungguh Ya Rasulallah, Kisra dan Qaishar bertelekan di atas bantal dan permadani suteranya, pelayan pun hilir mudik menyediakan keperluannya, sementara kedudukanmu di sisi Allah jauh lebih mulia …”, keluh ‘Umar. Ini salah satu keluhan yang kurang ia suka, tapi dengan senyum termanis yang pernah disaksikan dunia, ia jelaskan pada sahabat yang selalu bersemangat ini, “Apakah engkau tidak ridha mereka mendapat dunia sedang kita menyimpan akhirat wahai Ibnul Khaththab?”
Ia memang penguasa yang kekuasaannya tak kalah dengan Kisra dan Qaishar, tentu ia layak sejajar dengan mereka dalam fasilitas. Tapi yang ia kuasai tak cuma wilayah, rakyat, dan tentara. Yang ia taklukkan adalah hati, untuk diseru bersama dan berpadu, mengesakan Allah, Ilah yang Satu.
Ingatlah suatu hari saat ia membawa sepuluh ribu orang memasuki Makkah, kota yang dicintainya, kota yang penduduknya mengusir dan menyakitinya. Punggungnya terbungkuk, janggutnya menyentuh punuk untanya. Ia tak mabuk kemenangan. Ia beristighfar. Lalu, tampaklah wajah-wajah itu, wajah yang pernah menimpukkan kotoran, batu, dan isi perut unta. Wajah-wajah yang bengis, yang mengatainya gila, penyair pendusta, dan penyihir lihai. Saat wajah-wajah itu tertunduk lesu, terbungkam kalah di hadapannya, di depan Ka’bah, apa yang akan dilakukannya?
“Wahai Quraisy, apa yang selaiknya aku lakukan terhadap kalian?”, suaranya tegas namun tetap teduh dan sejuk. Suara itu membuat wajah-wajah tertekuk itu dibinari harapan, akan Al Amin, manusia paling jujur, paling mulia di tengah mereka. Lalu dengan kompak lisan mereka pun mengucap, “Engkau, adalah saudara kami yang mulia, putera dari saudara kami yang mulia..!”
“Pergilah..!”, katanya dengan nada yang sangat empatik, “Kalian semua bebas!”. Ia seolah mengikut jejak saudaranya, Yusuf berabad lalu. Saat ia mengucapkan perkataan melegakan kepada saudara-saudara yang telah memasukkannya ke kegelapan sumur.
“… Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kalian, mudah-mudahan Allah mengampuni. Dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.” (Yusuf 92)
Setelah menyaksikan cinta dari manusia yang seluruh sisi hidupnya penuh cinta ini, ada gerak yang perlu kita hidupkan. Gerak cinta mengamal sunnah. Gerak yang mungkin bermula dari niatan suci menjejaki langkah-langkahnya. Betapa pun, ada harapan bertemu dan bersua. Paling tidak nanti. Atau kini tetapi dalam mimpi.
Duhai kekasih Ilahi, kekasih hati imani
Hadirlah engkau di sini
Walau sekedar dalam mimpi
Kutahu engkau bimbangkan
Ummatmu yang kau tinggalkan
Terjerembab dalam ujian
(Suara Persaudaraan : Rindu Rasul)

The Beauty Of Love

"Tuhan memberi kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita ? Karena Tuhan telah memberikan sekeping lagi hati pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah namanya Cinta...

Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan, kepada orang-orang yang membutuhkan. Cinta kepada kekasih, orangtua, anak, saudara maupun sahabat kita. Jangan simpan kata-kata cinta pada orang yang tersayang hingga dia meninggal dunia , sehingga akhirnya kita terpaksa mencatatkan kata-kata cinta itu pada pusaranya. Sebaliknya ucapkan kata-kata cinta yang tersimpan dibenak itu sekarang selagi dia masih hidup.

Cinta dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh. Cinta dapat mengubah segala sesuatu.

Kadangkala kita tidak menghargai orang yang mencintai kita sepenuh hati, sehingga kita akan kehilangan. Pada saat itu, tiada guna sesalan karena perginya tanpa berpatah lagi.

Seandainya kita dapat berbicara dalam semua bahasa manusia dan alam, tetapi tidak mempunyai perasaan cinta dan kasih, diri kita tak ubah seperti gong yang bergaung atau sekadar canang yang gemerincing.

Cinta adalah keabadian...dan kenangan adalah hal terindah yang pernah dialami

Siapapun bisa pandai menghayati cinta tapi tiada seorangpun yang bisa pandai menilai cinta karena cinta hanya dapat ditilik melalui hati dan perasaan.

Cinta mampu melunakkan besi, menghancurkan batu dan meniupkan kehidupan padanya. Inilah dasyatnya cinta !

Permulaan cinta adalah membiarkan orang yang kita cintai menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kita inginkan. Jika tidak, kita hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kita temukan di dalam dirinya.

Cinta itu adalah anugrah Tuhan yang terbesar dan tidak ada seorangpun yang bisa menebak kemana Cinta itu akan berlabuh.....