Cinta, ruh yang mengalir lembut, menyenangkan , bersinar, jernih, dan ceria. Terkadang juga bermanifestasi menjadi luh yang mengalir lembut, menyesakkan, berderai, jerih, dan badai. Tak pernah ia dihukum haram. Karena ia bukan virus yang memberikan penyakit pada jiwa seperti yang sering yang kita salahtafsirkan. Justru cinta, adalah makhluq Allah yang harus dijaga kesehatannya dari setiap penyakit yang mencoba menungganginya. Penyakit yang datang dari syaitan, syahwat, maupun syubhat.
Dua remaja di singsingan fajar risalah, Fathimah dan ‘Ali mencontohkan bagaimana cinta hidup, dengan sehat, tanpa penyakit yang mengganggu kekhusyu’an. Ia menjadi rahasia hati, simpati, ketertarikan, kontrol diri, doa, dan harapan. Saking rahasianya, sampai syaithan pun tak tahu. Masih ingat kan kisah tentang mereka?
Begitu pun, saat Muhammad ibn ‘Abdullah ditanya, maukah ia menikah dengan Khadijah, ia berkata segera, “Bagaimana caranya?”. Perhatikanlah intonasi penuh antusiasme ini. Cinta itu sudah tumbuh dan bersemai dalam dirinya. Persis seperti siratan makna dari sabdanya bertahun-tahun kemudian:
“Tiada terlihat, bagi dua orang yang saling mencintai.. Yang seperti pernikahan” (HR Ibnu Majah)
Seperti bunga, cinta sejati takkan mampu menyembunyikan semerbak wanginya. Eksistensi cinta mengejawantah dalam kelembutan, kecerdasan, perbaikan diri, keshalihan dan tentu juga keikhlasan. Tanpa keikhlasan yang digantungkan pada Pemilik ‘Arsy Maha Tinggi, ia akan mati. Ia mati, persis seperti setangkai mawar yang dipotong hanya untuk dipersembahkan pada kekasih.
“Dan hendaklah menjaga kesucian dirinya, orang-orang yang belum mampu menikah, hingga Allah mengayakan mereka dari karuniaNya.” ( An Nur 33)
Pastinya engkau tahu apa makna keikhlasan dalam setiap amal. Dan ketidaktahuan adalah isyarat agar kita segera mengkaji. Cinta yang tercerabut dari tangkai keikhlasan akan menjadi bunga potong yang mungkin sesaat merona, dan selanjutnya masuk ke tempat sampah.
Saat kemampuan menikah belum di tangan, biarlah cinta berekspresi menjadi keshalihan, perbaikan diri hari demi hari. Karena samapta janji Ilahi telah terukir di pelataran wahyu: keshalihan menjumpai keshalihan dan kebusukan menjumpai kebusukan.
Bahkan, tak perlu pula berkata, “Dinda, tunggu aku tiga tahun lagi!”. Apa perlunya menjanji yang tak pasti. Tak diminta pun bidadari pasti menanti. Dan lelaki langit akan datang bersama cahaya.